Cara Mengetahui Gejala Difteri Pada Anak
Parenting admin  

Cara Mengetahui Gejala Difteri Pada Anak

Sejak 2017, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan kejadian difteri yang tidak biasa (KLB). Beberapa orang mungkin belum mengenal penyakit tersebut, karena menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), kasus difteri di Indonesia berfluktuasi sejak tahun 1980-an dan hampir menghilang pada tahun 1990an.

Menurut data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), faktor penyebab difteri muncul kembali adalah jadwal imunisasi yang tidak lengkap dan pergerakan anti vaksin pada beberapa kelompok masyarakat. Padahal, bila dialami oleh anak-anak, difteri pada anak bisa membahayakan.

Kenali difteri lebih dekat

Difteri adalah infeksi bakteri yang menyerang selaput lendir hidung dan tenggorokan. Anak-anak di bawah usia 5 tahun dan orang tua yang berusia di atas 60 tahun berisiko tinggi terkena difteri. Selain itu, mereka yang tinggal di lingkungan yang padat dan sanitasi yang buruk, kurang gizi, dan belum divaksinasi difteri juga berisiko tinggi mengalami kondisi ini.

Bakteri penyebab difteri, ialah Corynebacterium diphtheria, dapat menghasilkan racun yang merusak sistem syaraf pada manusia, terutama di hidung dan tenggorokan. Bakteri ini bisa masuk ke tubuh melalui hidung dan mulut, serta lesi kulit. Tidak hanya itu, bakteri ini juga dapat ditularkan dari satu orang ke orang lain melalui paparan tetesan dari orang yang sakit.

Setelah terkena bakteri penyebab difteri, gejala biasanya muncul dalam 2-5 hari. Pada sebagian orang, infeksi difteri hanya menyebabkan penyakit ringan, bahkan tidak tanda dan gejalanya. Faktanya, penderita difteri seringkali tidak menyadari bahwa mereka membawa bakteri terkait.

Deteksi dini penyakit difteri

Difteri memberikan gejala yang mirip dengan sakit tenggorokan. Perbedaannya adalah difteri menyebabkan terbentuknya selaput abu-abu tebal di hidung, tenggorokan, atau saluran pasien. Lapisan ini merupakan hasil racun atau racun yang dihasilkan oleh bakteri difteri. Jadi, gejala yang timbul setelah ini adalah:

  • Kesulitan bernapas atau menelan
  • Suara serak
  • Kelenjar getah bening di leher
  • Suara pernapasan bernada tinggi (stridor)
  • Denyut jantung meningkat
  • Kotoran dari hidung
  • Langit-langit bengkak (area di atap mulut)
  • Tubuh lemah dan lesu

Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, racun difteri bisa masuk ke aliran darah dan menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Karena racun ini dapat mengganggu kerja jantung dengan mengurangi fungsi pemompaannya, ia juga merusak ginjal dan mengurangi kemampuannya untuk “menyaring” racun. Tak berhenti sampai disitu, racun difteri juga dapat menyebabkan kerusakan saraf dan menyebabkan kelumpuhan (paralysis).

Satu hal yang perlu diperhatikan adalah gejala difteri pada setiap anak bisa berbeda-beda. Hal tersebut dipengaruhi oleh daya tahan tubuh anak terhadap bakteri penyebab penyakit. Terlepas dari itu, difteri masih perlu dideteksi dan ditangani secepatnya. Karena itu, infeksinya tidak menyebar dan mengancam nyawa anak yang mengalaminya. Untuk lebih jelasnya bisa langsung mencari artikel parenting lain yang membahas hal ini di Orami.